Kemenag Bondowoso hadir memberikan layanan keagamaan, pendidikan, dan pembinaan umat yang profesional, inklusif, dan berintegritas tinggi.

30 September 2026 Berita 18 Views

Cari Tenang dan Bahagia lewat Sholat, 225 Guru PAI Bondowoso Ikuti Terapi Sholat Bahagia

BONDOWOSO (Humas) — Guru agama yang baik tidak hanya menguasai materi, tetapi juga menjadi teladan bagi peserta didiknya. Semangat itulah yang mewarnai Pelatihan Terapi Sholat Bahagia Batch 27 Angkatan 228, yang diikuti 225 pendidik Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Kabupaten Bondowoso di Musholla MAN Bondowoso.

Pelatihan ini digelar pada 30 Agustus 2026 oleh KKG/MGMP PAI Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program GERAMM (Gerakan Ayo Membangun Madrasah) sekaligus Gerakan KATA SIGURU KKG-MGMP Rumpun PAI. Sebagai narasumber, hadir Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, H. Moh. Ali Masyhur, menyambut hangat narasumber, jajaran Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, dan seluruh peserta. Menurutnya, pelatihan ini menjadi kesempatan berharga bagi para guru untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus menemukan ketenangan dan kebahagiaan dalam beribadah.

“Dari judulnya saja sudah menarik, terapi sholat bahagia. Kita berharap melalui kegiatan ini, semakin memahami makna sholat, menemukan ketenangan, dan merasakan kebahagiaan dalam menjalankan ibadah,” ungkapnya.

Ali Masyhur menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru harus berjalan beriringan dengan pembinaan integritas, spiritualitas, dan keteladanan. Guru dituntut tidak hanya profesional, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari dan di lingkungan pendidikan.

Ia turut mengapresiasi Pokjawasi dan semua pihak yang terus menghadirkan program peningkatan kompetensi bagi guru dan kepala madrasah. Kehadiran para narasumber dan pengurus Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, lanjutnya, menjadi dorongan positif untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan di Bondowoso.

Dalam sambutannya, H. Sugiyo, Kabid Pendma mengingatkan bahwa madrasah memiliki sejarah panjang dalam memadukan ilmu agama dan pengetahuan umum. Perpaduan inilah yang menjadi ciri khas madrasah dan membuatnya terus dipercaya masyarakat.

Ia menuturkan, pendidikan agama sudah hadir melalui lembaga diniyah sejak sebelum Indonesia merdeka. Seiring perkembangan zaman, madrasah mengintegrasikan pembelajaran agama dan umum agar peserta didik dibekali pengetahuan sekaligus nilai-nilai keislaman.

Menurut Sugiyo, kepercayaan masyarakat tersebut menjadi tanggung jawab bersama yang harus dijawab dengan peningkatan kualitas pendidikan. Masyarakat tidak sekadar berharap anak-anak paham pelajaran agama, tetapi juga mampu mengamalkannya.

“Harapan masyarakat ketika menyekolahkan anak di madrasah adalah agar mereka memiliki agama yang baik. Indikatornya, sholatnya istiqamah dan benar, akhlaknya baik, serta mampu membaca Al-Qur’an dengan baik,” tuturnya.

Untuk menjawab harapan itu, berbagai program peningkatan kompetensi guru terus dikembangkan. Pelatihan tahsin dan tahfiz diberikan untuk menunjang kemampuan guru Al-Qur’an, sedangkan Terapi Sholat Bahagia menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat pembelajaran Fikih, Akidah Akhlak, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).

Sugiyo berharap pembelajaran agama tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai dan hikmah yang membentuk kepribadian peserta didik. Dengan begitu, ilmu yang diperoleh dapat menjadi pedoman untuk membedakan yang benar dan salah serta mendorong lahirnya perilaku yang baik.

“Pelajaran agama jangan hanya menjadi transfer keilmuan. Harapannya, nilai-nilai agama benar-benar dapat membentuk karakter anak, membimbing mereka membedakan yang hak dan batil, serta melahirkan kebaikan,” jelasnya.

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, H. Sugiyo, Kabid Pendma secara resmi membuka Pelatihan Terapi Sholat Bahagia Batch 27 Angkatan 228. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang refleksi dan pengembangan diri bagi para pendidik untuk memperdalam pemahaman tentang ibadah dan menerapkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran.

Melalui pelatihan ini, para guru PAI diharapkan semakin siap menjadi pendidik yang profesional, berintegritas, dan layak diteladani. Upaya ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama menghadirkan pendidikan agama yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk generasi berakhlak mulia.(Tim)