Pembinaan dan Bimtek Implementasi KBC Bersama Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur
Bondowoso (12/02) Hari ini MTsN 2 Bondowoso kedatangan tamu yang merupakan orang nomor satu di jajaran Kemenag Jatim yaitu Kepala Kantor Wilayah Bapak Dr. H.Akhmad Sruji Bahtiar,M.Pd.I. Tamu yang turut hadir adalah jajaran pejabat Kantor Kemenag Kabupaten Bondowoso serta kepala-kepala satker negeri MIN,MTsN, MAN serta Pengawas Bina.
Kehadiran Kepala Kanwil Kemenag Jatim adalah dalam rangka Pembinaan dan Bimtek Implementasi KBC " Implementasi Empati dan Keteladanan dalam Kurikulum Berbasis Cinta ( KBC). Sambutan pertama dalam acara disampaikan oleh Ibu Kepala MTsN 2 Bondowoso. Isi sambutan beliau adalah menggaris bawahi bahwa mendidik dengan empati dan hati akan melahirkan kedekatan emosional. Mendidik dengan keteladanan akan melahirkan karakter yang kokoh.
Materi yang disampaikan oleh Kepala Kanwil Kemenag Propinsi Jawa Timur adalah bahwa kita adalah pelayan yang harus memberi layanan terbaik dan melibatkan fisik dan jiwa ( empati) yang meliputi empati emosional dan intelektual. Siapapun yang mengharapkan layanan pasti berharap diberi layanan yang lemah lembut dan ikhlas. Guru adalah pelayan maka empatinya harus paham kompetensi yaitu akademik, profesional , emosional sehingga menjadi guru yang empatik. Guru pandai, siswa harus pandai, guru hebat murid harus hebat. Hal itulah yang harus dihadirkan. Mengajar harus ada empatinya. Hadirkan perasaan kita sehingga ada ikhtiar agar mereka pintar dan hebat. Bila seperti itu berarti kita sudah bermanifes di dalamnya.
Guru harus bisa jadi agen yang bisa memasarkan keinginan masyarakat, mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kita. Semua yang ada di madrasah berangkat dari keinginan siswa bukan keinginan madrasah. Hadirkan emosional bukan hanya intelektual karena berdampak pada tanggung jawabnya terhadap ilmu yang dia dapatkan.
Beliau juga mengajak semua menghadirkan jiwa dan raga. Jiwa yang tidak hadir akan mencetak ilmuwan yang rusak yang tak akan memberi kebajikan. Yang diajarkan sebagai guru adalah intelektual dan emosional agar ada kebermanfaatan, keberdampakan murid bagi masyarakat. Akhirnya bermuara pada tanggung jawab untuk mengamalkan ilmunya.
Tugas kita adalah menghadirkan keingintahuan siswa. Jangan mengajar! Kita harus membelanjarkan anak agar anak berproses, dan mengimplementasikannya. Setiap kita memaknai apa yang ada di lingkungan kita dan itu adalah sumber belajar. Peristiwa yang terjadi diambil hikmahnya untuk sumber ilmu pengetahuan, sumber inovasi.
Kita hadir harus jadi rule model bagi siswa. Guru berbicara, berkata-kata harus berdasarkan ilmu agar tidak menyesatkan. Kata dan ucapan kita adalah ilmu yang menjadi motivasi, pembeda bagi siswa, maka guru harus terus belajar.
Orang yang tidak bisa mengamalkan ilmu dengan benar akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir . Agar empati intelektual dan emosional terbangun kita harus memperbaiki niat.
Dalam mengajar ,komitmen harus dijaga dan dipertahankan apapun yang terjadi.
Loyalitas menunjukkan totalitas yang menjadi tanggung jawab karena diniatkan mengabdi dan berjuang.( wiedheri)



