Kemenag Bondowoso hadir memberikan layanan keagamaan, pendidikan, dan pembinaan umat yang profesional, inklusif, dan berintegritas tinggi.

02 October 2026 Berita 11 Views

PPSN VI 2026 Dibuka, Kemenag Bondowoso Dukung Penguatan Karakter dan Kompetensi Santri

MALANG (Humas) — Suasana Pondok Pesantren An-Nur 2 Al Murtadlo, Kabupaten Malang, dipenuhi semangat para Pramuka Santri dari berbagai daerah saat Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 resmi dibuka, Kamis (1/10) malam.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, Moh. Ali Masyhur, turut hadir dalam pembukaan kegiatan nasional tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari dukungan terhadap keikutsertaan kontingen Jawa Timur sekaligus penguatan peran pesantren dalam membentuk generasi muda yang berkarakter dan memiliki daya saing.

Kontingen Jawa Timur pada PPSN VI berjumlah 74 orang, terdiri atas 64 peserta dan 10 pendamping. Mereka bergabung bersama Pramuka Santri dari berbagai provinsi untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung 30 September hingga 6 Oktober 2026.

PPSN VI dibuka secara resmi oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan aktivitas kepramukaan dan kompetisi, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi para santri untuk mengasah kepemimpinan, kemandirian, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta kecintaan terhadap tanah air dan lingkungan.

Di tengah dinamika kehidupan generasi muda yang semakin beragam, PPSN menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan nilai-nilai kepesantrenan dengan semangat kepramukaan. Dari kegiatan bersama, para santri belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, solidaritas, sekaligus bagaimana mengambil peran yang memberi manfaat bagi orang lain.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya karakter Pramuka Santri yang mampu menghadirkan ketenangan di tengah masyarakat. Menurutnya, seorang Pramuka tidak semestinya memperbesar persoalan, tetapi justru hadir untuk membantu mencari jalan keluar.

“Seorang kader Pramuka jangan suka membuat orang resah, tetapi harus membuat situasi menjadi gampang, menjadi mudah. Seorang kader Pramuka tidak boleh mencari masalah dan membesar-besarkan masalah,” ujar Menag.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemampuan menghadapi persoalan merupakan bagian penting dari pembentukan karakter. Para santri diharapkan mampu melihat masalah secara proporsional, menyikapinya dengan bijak, dan tidak menjadikan persoalan kecil sebagai sumber keresahan yang lebih luas.

“Seorang Pramuka tidak boleh mendramatisasi sesuatu yang kecil menjadi besar. Itu bisa merusak bangsa. Jadilah moderator, bukan provokator,” tegasnya.

Nasaruddin juga mengingatkan bahwa karakter perlu berjalan beriringan dengan kompetensi. Santri, kata dia, perlu terus memperluas pengetahuan dan keterampilan, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, serta menguasai bahasa agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak para santri untuk berani memiliki cita-cita besar. Menurutnya, latar belakang pesantren bukan menjadi batas untuk berkiprah, melainkan dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun masa depan.

“Saya yakin para santri luar biasa semuanya. Insyaallah, kalian akan menjadi ulama-ulama yang mendunia, menjadi pebisnis-pebisnis yang luar biasa, dan menjadi intelektual yang mampu memberikan dedikasi terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tutur Khofifah.

Ia juga mendorong para santri agar terus mengembangkan potensi dan tidak membatasi diri dalam menentukan masa depan. Pendidikan pesantren, menurutnya, memiliki peran penting dalam melahirkan generasi yang memiliki ilmu, karakter, kompetensi, sekaligus kepedulian terhadap masyarakat.

Bagi para peserta, PPSN VI bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara dalam setiap perlombaan. Lebih dari itu, pengalaman selama mengikuti perkemahan menjadi kesempatan untuk belajar mengenal keberagaman, membangun persahabatan, melatih kemandirian, dan menguji kemampuan bekerja bersama.

Semangat itulah yang diharapkan terus dibawa pulang oleh para Pramuka Santri setelah PPSN berakhir. Nilai kedisiplinan, kepemimpinan, persaudaraan, kepedulian, dan pengabdian diharapkan tidak berhenti di lokasi perkemahan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

PPSN VI Tahun 2026 pun menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menyiapkan generasi santri yang tidak hanya kuat dalam nilai keagamaan, tetapi juga memiliki karakter, kompetensi, kemandirian, dan kesiapan untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

Dari lingkungan pesantren, para Pramuka Santri membawa semangat untuk terus belajar, berprestasi, dan mengabdi—dengan bekal karakter yang kuat serta pandangan yang lebih luas dalam menghadapi masa depan.(Tim)