Apel Pagi Kemenag Bondowoso, Pembina Apel Tekankan Kesiapan dan Sinergi Layanan Haji 2026
Bondowoso (Inmas) — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso melaksanakan apel pagi pada Senin, 2 Februari 2026, di halaman kantor setempat. Apel diikuti oleh jajaran pejabat struktural, fungsional, serta seluruh ASN di lingkungan Kemenag Bondowoso.
Bertindak sebagai pembina apel, Kepala Kementerian Haji dan Umrah Bondowoso Drs. H. Astono, M.HI, menyampaikan arahan penting terkait persiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa pelayanan kepada jemaah harus terus diperkuat melalui kerja sama dan inovasi di tengah berbagai dinamika yang ada.
Kuota Jemaah Haji Bondowoso 2026 Capai 916 Orang
Dalam pemaparannya, Drs. H. Astono menjelaskan bahwa kuota awal jemaah haji Bondowoso tahun ini berjumlah 902 orang. Setelah adanya proses mutasi masuk dan keluar, total akhir jemaah menjadi 916 orang.
Untuk Pemberangkatan ke Tanah Suci jemaah akan dibagi ke dalam tiga kelompok terbang (kloter). Kloter Bondowoso yakni: kloter 85, 86, dan 87.yang akan berangkat pada tanggal 13 dan 14 Mei 2026.
“Pengelolaan jemaah harus tertata sejak awal, karena ini berkaitan langsung dengan kenyamanan dan kelancaran ibadah mereka,” ungkapnya.
Tantangan Keterbatasan Pembimbing Ibadah
Pembina apel juga menyoroti kendala dalam aspek pembimbing ibadah. Tahun ini, Bondowoso dilaporkan tidak memiliki Petugas Haji Daerah (PHD). Sementara itu, dari unsur KBIHU baru satu orang Pembimbing yang menyertai Jamaah.
Menurutnya, keterbatasan pembimbing menjadi perhatian serius karena ibadah haji membutuhkan pendampingan yang optimal.
Inovasi “Ketua Regu Menjadi Kiai Regu”
Sebagai langkah solusi, Kemenhaj Bondowoso meluncurkan program inovatif bertajuk “Ketua Regu Menjadi Kiai Regu”. Program ini mendorong Ketua Regu (Karu) untuk berperan aktif sebagai pembimbing ibadah bagi anggotanya tidak sekedar sebagai coordinator.
Drs. Astono menjelaskan bahwa pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan pentingnya pendampingan Jamaah, semakin banyak pendamping maka akan semakin baik, terutama dalam pelaksanaan ibadah di Masjidil Haram.
“Dengan rasio pembimbing yang sangat terbatas, Karu akan menyusun formasi kecil agar jemaah bisa lebih rapat dan terarah saat menjalankan ibadah, khususnya ketika mendekati Ka’bah,” jelasnya.
Efisiensi Anggaran dan Penyesuaian Kebijakan
Dalam arahannya, ia juga menyampaikan adanya efisiensi anggaran yang cukup signifikan pada tahun ini. Anggaran keberangkatan yang biasanya tersedia di tingkat kabupaten maupun KBIHU kini tidak lagi ada, bukan karena kurangnya perhatian pemerintah daerah, melainkan akibat kebijakan efisiensi nasional.
Sebagai bentuk penyesuaian, anggaran kegiatan Kemenhaj yang tahun lalu dua kali kegiatan tahun ini hanya satu kali di kabupaten, Sehubungan dengan pemerintah daerah tidak mengadakan pelepasan Jammah haji karena terjadi efisiensi anggaran maaka kegiatan kemenhaj di Pusatkan di pendopo Sehingga Bupati bias melepaskan Jamaah haji dengan komunikasi langsung dan melepas jemaah secara resmi.
Sinergi dan Kebersamaan Antar Instansi
Di akhir arahannya, Drs. Astono memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran Kemenag Bondowoso atas sinergi yang terus terjalin dengan berbagai pihak. Ia menegaskan bahwa kekurangan atau keterbatasan harus ditutupi bersama melalui kolaborasi antar instansi.
“Kita harus saling menguatkan. Pelayanan haji ini amanah besar, dan harus kita jalankan dengan kebersamaan serta tanggung jawab,” pungkasnya.
Apel pagi tersebut menjadi momentum penguatan semangat kerja ASN Kemenag Bondowoso dalam memberikan pelayanan terbaik, khususnya dalam menyambut penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026.(Tim)



