Kemenag Bondowoso hadir memberikan layanan keagamaan, pendidikan, dan pembinaan umat yang profesional, inklusif, dan berintegritas tinggi.

05 November 2025 Berita 141 Views

Kepala Kanwil Kemenag Jatim Launching Aplikasi “Sapece’an Bennyak Solusi” di Bondowoso

Bondowoso (Inmas)– Suasana aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso pagi itu terasa hangat. Rabu (5/11/2025), ratusan guru dan pejabat Kemenag memenuhi ruangan. Mereka datang untuk dua acara penting: launching aplikasi “Sapece’an Bennyak Solusi” dan Sarasehan Peningkatan Profesionalisme Guru dalam Mewujudkan Kurikulum Cinta.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, Dr. H. Moh. Ali Masyhur, S.Ag., M.HI. Dalam sambutannya, ia menyampaikan selamat datang kepada seluruh tamu undangan, terutama kepada Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I.

“Selamat datang di Bondowoso, Bapak Kepala Kanwil. Terima kasih atas kehadiran dan dukungannya untuk terus mendorong inovasi layanan dan peningkatan profesionalisme guru di lingkungan Kementerian Agama,” ucap Ali Masyhur disambut tepuk tangan para peserta.

Setelah sambutan, suasana berubah tegang sekaligus antusias. Layar besar di depan menampilkan logo aplikasi baru. Dengan hitungan dari pembawa acara — satu, dua, tiga — tombol virtual ditekan bersama oleh Dr. Akhmad Sruji Bahtiar dan Dr. H. Moh. Ali Masyhur.

Tepuk tangan menggema. Aplikasi “Sapece’an Bennyak Solusi” resmi diluncurkan. “Aplikasi ini bukan sekadar inovasi digital,” kata Kepala Kanwil. “Ini cara baru menghadirkan layanan keagamaan yang cepat, mudah, dan akuntabel. Kita ingin masyarakat merasakan langsung manfaat transformasi digital.”

Usai peluncuran, kegiatan berlanjut dengan Sarasehan “Peningkatan Profesionalisme Guru dalam Mewujudkan Kurikulum Cinta.” Ratusan guru dari madrasah negeri dan swasta tampak antusias mengikuti acara ini.

Dalam sarasehan, Akhmad Sruji Bahtiar berbicara dengan gaya yang menenangkan. Tapi kata-katanya mengena. “Profesionalisme itu tak hanya soal disiplin,” katanya. “Yang paling mendasar adalah cinta. Karena cinta adalah ruh dari pengabdian.”

Ia menjelaskan, guru yang bekerja dengan cinta tak lagi menghitung waktu atau tenaga. “Guru seperti ini akan mengajar dengan sepenuh hati, membimbing dengan kasih, dan menuntun murid menuju kesuksesan lahir dan batin,” ujarnya.

Sruji Bahtiar lalu berbicara tentang ibadah dan cinta. “Kalau ibadah kita tak melahirkan cinta, berarti ada yang perlu kita periksa dalam hati,” katanya. “Ibadah sejati menumbuhkan kelembutan, kasih sayang, dan keikhlasan.”

Nada suaranya mengeras saat berbicara soal integritas ASN. “Hati-hati bagi ASN yang ‘diswastakan’ oleh dirinya sendiri,” ucapnya. “Datang tak tepat waktu, pulang sebelum waktunya, bekerja tanpa kesungguhan. Itu bukan profesionalisme.”

Ia menekankan pentingnya menjaga kehalalan rezeki. “Ilmu adalah cahaya. Cahaya takkan masuk ke hati yang gelap karena makanan haram,” katanya lantang. “Kalau ada rezeki yang tidak halal, maka daging yang tumbuh dari sana menjadi hijab antara ilmu dan keberkahan.”

Di akhir acara, Seruji menutup dengan pesan tajam tapi penuh makna.
“Guru yang mengajar tanpa roh cinta, sejatinya bukan sedang beribadah. Mari kembalikan niat. Mengajar bukan karena gaji dan tunjangan, tapi karena cinta kepada Allah dan bangsa.”

Suasana aula hening sesaat. Lalu tepuk tangan panjang mengiringi akhir sambutan.
Hari itu, Bondowoso tak sekadar meluncurkan aplikasi digital. Tapi juga menyalakan semangat baru — melayani dengan inovasi, mengajar dengan cinta.(tim)