Kemenag Bondowoso hadir memberikan layanan keagamaan, pendidikan, dan pembinaan umat yang profesional, inklusif, dan berintegritas tinggi.

28 October 2026 Berita 13 Views

Pemuda Lintas Agama Diajak Jadi Garda Terdepan Jaga Kerukunan di Dunia Maya

Kemenag Jatim Gaungkan Gerakan "Saring Sebelum Sharing" untuk Redam Hoaks dan Provokasi

BONDOWOSO (Humas) – Menjaga kerukunan umat beragama bukan hanya tugas pemerintah dan tokoh agama. Generasi muda juga punya peran penting, termasuk merawat ruang digital agar tetap sehat, aman, dan bebas provokasi. Pesan itu mengemuka dalam Dialog Pemuda Lintas Agama bertema "Saring Sebelum Sharing: Peran Pemuda Lintas Agama Merawat Ruang Digital untuk Mewujudkan Indonesia Rukun, Berdaulat, Adil, dan Makmur". Kegiatan digelar secara daring dari Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, Rabu (28/10/2026).

Dialog yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur ini bertujuan memperkuat kerukunan sekaligus mendorong generasi muda membangun budaya bermedia sosial yang bijak, bertanggung jawab, dan menjunjung toleransi.

Kepala Subbagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jawa Timur, H. Saikhul Hadi, dalam laporannya menyampaikan bahwa dialog ini dirancang untuk meningkatkan peran aktif dan kepeloporan pemuda lintas agama dalam merawat kerukunan, termasuk di tengah dinamika interaksi masyarakat di ruang digital.

Menurutnya, kemajuan teknologi informasi membuka ruang komunikasi yang kian luas. Namun, kemudahan itu harus diimbangi kecakapan literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, ujaran kebencian, maupun narasi provokatif yang berpotensi memicu perselisihan.

"Melalui kegiatan ini, kami berharap pemuda lintas agama semakin memiliki kecakapan literasi media serta mampu menerapkan etika dan nilai-nilai keagamaan yang menyejukkan dalam berinteraksi di ruang digital," demikian substansi yang disampaikan dalam laporan kegiatan.

Ia menambahkan, dialog ini juga diarahkan untuk membangun sinergi antarpemuda lintas agama, memperluas ruang komunikasi, dan memperkuat pemahaman bersama di tengah keberagaman masyarakat Jawa Timur. Dengan begitu, generasi muda diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi juga pelopor penyebaran informasi yang benar dan penguat pesan perdamaian.

Kegiatan berlangsung secara hibrida sehingga peserta dari berbagai daerah dapat terlibat. Peserta luring terdiri dari pimpinan dan jajaran Kanwil Kemenag Jawa Timur, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta berbagai organisasi keagamaan dan kepemudaan lintas agama. Peserta daring mengikuti dari kantor Kementerian Agama kabupaten/kota se-Jawa Timur, meliputi organisasi kepemudaan, penyuluh lintas agama, serta unsur pendidikan dan pengawasan pendidikan agama.

Peserta dijadwalkan menerima dua materi. Pertama, "Saring Sebelum Sharing: Merawat Kerukunan dalam Dinamika Ruang Digital" oleh Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI. Kedua, "Menjaga Stabilitas Jawa Timur: Peran Pemuda Lintas Agama Meredam Isu Sensitif di Media Sosial" oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur.

Kedua materi tersebut diharapkan memperkuat kapasitas peserta dalam memahami tantangan kerukunan di era digital, sekaligus membekali mereka agar mampu menyikapi persoalan sensitif secara bijak dan tidak mudah terseret arus informasi yang menyesatkan.

Sekretaris FKUB Provinsi Jawa Timur, Kasno Sudaryanto, mengapresiasi terselenggaranya dialog ini. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai unsur lintas agama dalam memperkuat komitmen menjaga keharmonisan masyarakat.

Ia berharap materi dan pengalaman yang diperoleh tidak berhenti di forum pertemuan, tetapi dikembangkan lebih lanjut melalui kegiatan dan program organisasi masing-masing. Menurutnya, penguatan kerukunan membutuhkan proses berkelanjutan melalui pertukaran pengetahuan, komunikasi terbuka, dan kolaborasi antarkomunitas. Forum seperti ini diharapkan menjadi sarana memperluas gerakan kerukunan di berbagai daerah di Jawa Timur.

Melalui dialog ini, pemuda lintas agama diharapkan semakin memahami pentingnya memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, menghormati perbedaan pandangan, serta menghindari penyebaran konten yang dapat memperkeruh hubungan antarkelompok.

Di tengah derasnya arus informasi, sikap kritis dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial menjadi bagian penting dari upaya merawat persatuan. Semangat "saring sebelum sharing" diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan bersama, sehingga ruang digital menjadi sarana memperkuat persaudaraan, menyebarkan pesan damai, dan menjaga kerukunan umat beragama.

Dengan keterlibatan aktif generasi muda, cita-cita Indonesia yang rukun, berdaulat, adil, dan makmur diharapkan semakin nyata, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di ruang digital.(dany)