Praktik Baik Pendidikan Karakter di MIN 3 Bondowoso Lewat Program Jum’at Mubarok
Bondowoso, 30 Januari 2026 — Pendidikan karakter tidak selalu harus diajarkan melalui teori di ruang kelas. Di MIN 3 Bondowoso, nilai-nilai tersebut justru ditanamkan melalui pembiasaan sederhana namun konsisten dalam program Jum’at Mubarok, yang dilaksanakan setiap Jumat pagi dengan melibatkan seluruh warga madrasah.
Kegiatan diawali dengan GEMAS (Guru Menyambut Siswa-Siswi). Sejak gerbang madrasah dibuka, para guru menyambut kedatangan siswa dengan salam, senyum, dan sapaan hangat. Pembiasaan ini menjadi bentuk pendekatan emosional yang bertujuan menciptakan rasa aman, nyaman, dan dihargai pada diri peserta didik sejak awal hari.
“Sambutan pagi ini penting untuk membangun suasana belajar yang positif. Anak-anak merasa diterima dan lebih siap mengikuti pembelajaran,” ujar Baratut Taqiyah, guru kelas I MIN 3 Bondowoso.
Setelah itu, siswa mengikuti kegiatan DUHAJI (Sholat Dhuha, Hafalan, dan Mengaji) yang dilaksanakan secara tertib di halaman madrasah. Kegiatan ini menjadi sarana penguatan karakter religius, kedisiplinan ibadah, serta penyeimbangan aspek kognitif dan spiritual dalam proses pendidikan.

Seorang siswa kelas V menyampaikan bahwa DUHAJI membantu menenangkan hati sebelum belajar sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul melalui pembiasaan ibadah dan membaca Al-Qur’an.
Nilai-nilai spiritual tersebut kemudian diterjemahkan dalam bentuk aksi sosial melalui JUMADI (Jum’at Beramal dan Berinfaq). Melalui kegiatan ini, siswa dibiasakan berbagi dan peduli terhadap sesama dengan menyisihkan sebagian rezeki secara sukarela. Praktik ini menjadi media pembelajaran nyata tentang empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Selain itu, MIN 3 Bondowoso juga mengintegrasikan pendidikan budaya melalui program Jum’at ABESAH (Berbahasa Madura Halus). Sepanjang hari, interaksi antarsiswa dan guru dilakukan menggunakan Bahasa Madura Halus (Enggi Bhunten). Pembiasaan ini bertujuan melestarikan budaya lokal, menanamkan kesantunan berbahasa, serta menumbuhkan kecintaan terhadap identitas daerah sebagai bagian dari pendidikan kebangsaan.

Aspek kepedulian lingkungan juga menjadi bagian penting dalam rangkaian Jum’at Mubarok. Melalui program My Tumbler My Hero, siswa dibiasakan membawa tempat minum dan wadah makanan sendiri guna mengurangi sampah plastik. Sementara itu, kegiatan Operasi Semut dilakukan sebelum pulang sekolah sebagai latihan tanggung jawab menjaga kebersihan dan memilah sampah.

Kepala MIN 3 Bondowoso menjelaskan bahwa Jum’at Mubarok dirancang sebagai model pembelajaran karakter yang terintegrasi dan kontekstual.
“Pendidikan karakter tidak berdiri sendiri, tetapi harus hadir dalam keseharian siswa. Melalui pembiasaan ini, peserta didik dilatih menjadi pribadi yang religius, peduli sosial, mencintai budaya, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” jelasnya.
Program Jum’at Mubarok menjadi contoh praktik baik bagaimana satuan pendidikan dasar dapat mengimplementasikan pendidikan karakter secara utuh melalui rutinitas sederhana. Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, spiritualitas yang kuat, dan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.




