Sarjana Baru, Semangat Baru dari STIT Al-Ishlah
Bondowoso (Inmas)– Tepuk tangan bergema di Auditorium KH. Muhammad Ma’shum, Pondok Pesantren Al-Ishlah, Senin pagi (3/11). Wajah-wajah muda berseri, toga hitam, dan senyum lega. Hari itu, puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Ishlah Bondowoso resmi diwisuda.
Suasana hangat. Penuh haru. Orang tua menatap bangga. Para dosen berdiri memberi hormat. Di barisan tamu kehormatan, hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, Dr. H. Moh. Ali Masyhur, S.Ag., M.HI., didampingi Kasi PD. Pontren, H. Mohammad Noer Fauzan, S.Ag., M.Pd.I.
Ali Masyhur naik ke podium. Suaranya mantap, tenang, dan berisi. “Wisuda ini bukan akhir,” katanya, “tetapi awal dari pengabdian.” Ia menatap para wisudawan satu per satu. “Bawalah semangat moderasi, ilmu, dan pengabdian di mana pun kalian berada.”
Kata-katanya disambut anggukan. Beberapa mahasiswa menunduk, menahan haru.
Prosesi berjalan khidmat. Lagu Indonesia Raya berkumandang, diikuti pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Satu per satu nama wisudawan dipanggil.E Mereka maju dengan langkah mantap. Samir dikalungkan, disambut sorak bangga keluarga.
Di tengah acara, pimpinan STIT Al-Ishlah menyampaikan orasi ilmiah tentang pentingnya pendidikan berbasis karakter. “Kami ingin mencetak guru yang tak hanya pandai mengajar, tapi juga menginspirasi,” ujarnya.
STIT Al-Ishlah dikenal konsisten membentuk pendidik berjiwa santri — cerdas, sederhana, dan berintegritas. Kampus yang lahir dari rahim pesantren ini menjadi ruang bagi lahirnya para pendidik yang paham nilai keislaman dan kebangsaan.
Menjelang penutupan, Kepala Kemenag Bondowoso kembali memberi pesan singkat. “Terus belajar,” katanya pelan. “Karena dunia pendidikan tak pernah berhenti.”
Tepuk tangan pecah. Kamera ponsel terangkat. Para sarjana baru menatap masa depan — dengan ilmu di dada dan doa di langit.(tim)



