Kemenag Bondowoso hadir memberikan layanan keagamaan, pendidikan, dan pembinaan umat yang profesional, inklusif, dan berintegritas tinggi.

09 September 2026 Berita 7 Views

PAI Berziarah 2026, Momentum Meneguhkan Pengabdian dan Keteladanan Guru PAI

Bondowoso, 9 September 2026 (Humas)-Sebanyak 150 Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK se-Kabupaten Bondowoso mengikuti kegiatan PAI Berziarah Tahun 2026 di Makam Raden Bagus Asra, Rabu (9/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso Dr. H. Moh. Ali Masyhur, S.Ag, M.HI, dan Plt. Kasi Pendidikan Agama Islam (PAIS) Dr. Samson Hidayat, beserta jajaran Pengawas PAI.

Ziarah ini bukan sekadar mengunjungi makam tokoh sejarah. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus mengambil pelajaran tentang arti pengabdian dan keteladanan.

Dalam sambutannya, H. Moh. Ali Masyhur menyampaikan bahwa setiap manusia memiliki batas waktu dalam kehidupan, demikian pula dengan amanah jabatan yang suatu saat akan berakhir. Namun, nilai kebaikan dan pengabdian yang dilakukan dengan tulus dapat terus hidup dalam ingatan dan memberi manfaat bagi orang lain.

“Pada waktunya, usia akan berhenti dan jabatan juga akan berakhir. Yang kemudian tetap dikenang adalah kebaikan dan pengabdian yang kita tinggalkan selama menjalankan amanah,” ungkapnya.

Ia menegaskan, pesan tersebut sangat relevan bagi para guru PAI. Menurutnya, tanggung jawab seorang guru PAI tidak berhenti pada penyampaian materi pembelajaran, tetapi juga menyentuh pembentukan karakter peserta didik.

“Guru PAI memiliki peran yang luar biasa. Tugasnya bukan hanya membantu menyiapkan masa depan anak-anak, tetapi juga membangun karakter dan menyiapkan generasi yang memiliki bekal lahir maupun batin,” ujarnya.

H. Moh. Ali Masyhur juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi para guru PAI yang selama ini turut mengambil bagian dalam membangun pendidikan dan kehidupan masyarakat.

“Kami bangga dapat membersamai guru-guru PAI. Semoga setiap langkah dan pengabdian yang dilakukan mendapat rida dari Allah SWT,” harapnya.

Mengenal Perjalanan Raden Bagus Asra

Momentum ziarah juga dimanfaatkan peserta untuk mengenal lebih dekat sosok Raden Bagus Asra, yang dalam sejarah Bondowoso dikenal pula dengan nama Ki Ronggo.

Keturunan kelima Raden Bagus Asra menceritakan bahwa perjalanan tokoh tersebut bermula dari Pamekasan, Madura. Ketika terjadi Perang Kelesap pada 1743, Raden Bagus Asra yang saat itu masih berusia enam tahun dibawa keluarganya menyeberang ke Pulau Jawa.

Di Besuki, ia kemudian bertemu Kiai Patih Alus yang memberikan pendidikan sekaligus membentuk jiwa kepemimpinannya. Setelah dewasa, Raden Bagus Asra diangkat sebagai anak oleh Bupati Besuki, Suroadikusumo, dan mendapat kepercayaan menjalankan berbagai tugas pemerintahan.

Pada 1789, ia mendapat amanah untuk membuka wilayah baru di kawasan selatan Besuki. Dengan bekal sederhana berupa dua ikat jagung dan seekor kerbau bule bernama Si Melati, perjalanan itu akhirnya membawanya ke wilayah yang kini menjadi pusat Kabupaten Bondowoso.

Di tempat tersebut, Si Melati berhenti dan tidak lagi melanjutkan perjalanan. Peristiwa itu kemudian menjadi bagian dari sejarah perjalanan Raden Bagus Asra dalam membangun pemukiman dan pemerintahan baru. Ia juga mendirikan Masjid At-Taqwa pada 1809.

Setelah menjalani tirakat dan puasa selama 41 hari, Raden Bagus Asra memperoleh petunjuk spiritual yang berkaitan dengan angka 17. Ia kemudian dilantik sebagai penguasa wilayah pada 17 Agustus 1819, tanggal yang hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Bondowoso.

Kisah Raden Bagus Asra menjadi bagian penting dari sejarah Bondowoso. Lebih dari sekadar cerita tentang berdirinya sebuah wilayah, perjalanan tersebut menyimpan nilai perjuangan, kepemimpinan, keteguhan, dan pengabdian yang relevan untuk terus diwariskan.

Dari Mengenang Sejarah hingga Menanam Pohon

Usai ziarah, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon di sekitar kawasan makam.

Penanaman pohon menjadi simbol bahwa kebaikan tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu terus ditanam dan dirawat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Nilai tersebut sejalan dengan tugas para guru yang menanamkan ilmu dan karakter kepada peserta didik untuk menjadi bekal kehidupan mereka.

Melalui PAI Berziarah 2026, para guru PAI diajak tidak hanya menengok perjalanan sejarah, tetapi juga mengambil hikmah untuk memperkuat semangat pengabdian, menjaga lingkungan, serta terus menghadirkan kebaikan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.(Tim)