
Tanamkan Cinta Al-Qur’an Sejak TK, Guru Jadi Garda Depan Peradaban
Bondowoso (Inmas) – Aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bondowoso tampak ramai sejak pagi, Kamis (28/8/2025). Suara riuh para guru Taman Kanak-kanak (TK) se-Kabupaten Bondowoso terdengar akrab, bercampur dengan senyum dan semangat yang menggebu. Mereka datang bukan sekadar mengikuti pelatihan biasa, melainkan menimba ilmu dalam Workshop Literasi Al-Qur’an bagi Guru PAI jenjang TK, sebuah kegiatan yang diyakini mampu membentuk fondasi peradaban Qur’ani sejak dini.
Sebanyak 92 peserta duduk rapi mengikuti rangkaian acara. Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Bondowoso, Dr. H. Moh. Ali Masyhur, S.Ag., M.HI, didampingi oleh Kasi Pendidikan Agama Islam H. Tofan Hidayat, S.Pd.I., M.Si serta Pengawas PAI Bambang Jayadi. Hadir pula Fathorrosi, S.Pd.I selaku ketua panitia, dan Mahrini Syarif yang didapuk menjadi narasumber utama.
Dalam sambutannya, Ali Masyhur menegaskan betapa mulianya peran guru TK. Ia menyebut guru TK sebagai “arsitek peradaban”, karena di tangan mereka lahir generasi yang cinta Al-Qur’an sejak usia dini.
“Kalau anak-anak TK sudah jatuh cinta kepada Al-Qur’an, insyaAllah mereka akan tumbuh menjadi generasi yang berlari sendiri mendekati cahaya Al-Qur’an. Tugas mulia itu ada di tangan para guru TK,” ujarnya penuh haru.
Ia juga menekankan bahwa membangun bangsa tidak bisa dilepaskan dari pendidikan dini yang kokoh. Menurutnya, setiap anak kelak bisa menjadi apa saja—dokter, insinyur, bahkan presiden—tetapi semua berawal dari pondasi nilai Qur’ani yang ditanamkan sejak masa TK.
“Apa pun cita-citanya kelak, mau jadi presiden sekalipun, pondasi peradaban itu tercetak sejak mereka di bangku TK. Dan guru TK adalah arsiteknya,” tegasnya.
Workshop ini dirancang sebagai ruang pembelajaran kreatif. Melalui pemaparan narasumber Mahrini Syarif, peserta dibekali metode inovatif dalam mengenalkan Al-Qur’an kepada anak usia dini. Tidak hanya sekadar mengajarkan huruf hijaiyah, melainkan menumbuhkan rasa cinta dan kedekatan anak terhadap kitab suci.
Mahrini mencontohkan pentingnya pendekatan dengan cerita, lagu, dan permainan edukatif agar anak merasa belajar Al-Qur’an itu menyenangkan.
“Di usia TK, anak lebih suka bermain. Maka literasi Qur’ani harus dikemas dengan bahasa mereka—cerita, nyanyian, gerak tubuh. Dari situ lahir cinta yang akan tumbuh sepanjang hayat,” tuturnya.
Para peserta workshop terlihat antusias. Beberapa guru bahkan mencatat setiap poin penting yang disampaikan narasumber. Ada pula yang sesekali berdiskusi kecil dengan rekan di sebelahnya tentang cara mengadaptasi metode pembelajaran di kelas mereka masing-masing.
Siti Nurhalimah, salah satu peserta dari TK di Kecamatan Curahdami, mengaku kegiatan ini sangat bermanfaat.
“Selama ini kami masih banyak mengajarkan Al-Qur’an dengan cara konvensional. Tapi setelah ikut workshop ini, saya sadar anak-anak butuh pendekatan kreatif agar mereka betah belajar Al-Qur’an,” katanya penuh semangat.
Ketua panitia, Fathorrosi, S.Pd.I, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program peningkatan mutu guru PAI di Kabupaten Bondowoso.
“Harapannya, setelah workshop ini para guru bisa menjadi motor penggerak literasi Qur’ani di sekolah masing-masing. Anak-anak akan lebih dekat dengan Al-Qur’an, dan itu menjadi modal utama mencetak generasi Qur’ani di Bondowoso,” ujarnya.
Kasi PAI, H. Tofan Hidayat, menambahkan bahwa kegiatan semacam ini akan terus diperkuat ke depannya. Pihaknya berkomitmen mendampingi para guru agar semakin siap menghadapi tantangan zaman dalam mendidik generasi emas 2045.
Workshop yang berlangsung sehari penuh itu ditutup dengan refleksi bersama. Para peserta sepakat bahwa literasi Al-Qur’an bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga upaya menanamkan nilai keimanan, akhlak mulia, dan karakter yang kuat sejak usia dini.
Dengan semangat kebersamaan, Kemenag Bondowoso berharap kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam melahirkan generasi Qur’ani yang tangguh, moderat, dan siap menghadapi tantangan zaman.(Tim)