Kakanwil Kemenag Jatim Ajak Guru PAI Mengajar dengan Hati, Mengabdi dengan Ikhlas, dan Menjadi Teladan
BONDOWOSO (Humas) — Menjadi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi pelajaran di ruang kelas. Lebih dari itu, guru memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai keislaman, membangun karakter, serta memberikan keteladanan yang dapat diterapkan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pada SEMINAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (GPAI)
Jumat, 16 Oktober 2026 di Aula Grand Padis Bondowoso

Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I., saat memberikan arahan kepada para guru PAI di Bondowoso. Ia mengajak para pendidik untuk kembali memaknai profesi guru sebagai amanah yang menuntut keikhlasan, kecintaan terhadap peserta didik, dan kesungguhan dalam menjalankan tugas.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan agama tidak hanya diukur dari materi yang tersampaikan atau capaian akademik peserta didik, tetapi juga dari nilai-nilai yang tumbuh dalam sikap dan perilaku mereka. Karena itu, guru PAI perlu menghadirkan ajaran Islam melalui pembelajaran yang bermakna sekaligus keteladanan nyata.
Ia mengajak para guru merefleksikan motivasi dalam mendidik. Hak dan kesejahteraan guru merupakan bagian penting dari profesi yang harus diperhatikan. Namun, pelaksanaan tugas pendidikan juga perlu dilandasi kesadaran bahwa ilmu yang dibagikan dan kebaikan yang ditanamkan memiliki manfaat bagi masa depan peserta didik.
“Ketika kita memilih menjadi guru, bukan hanya soal menjalankan kewajiban, tetapi juga bagaimana amanah itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Bagaimana kita mengajar dengan benar, membimbing peserta didik, dan menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka,” pesannya.
Dalam arahannya, Akhmad Sruji Bahtiar juga menguraikan empat perspektif dalam tasawuf, yakni syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat, sebagai bahan refleksi bagi para pendidik dalam menjalankan profesinya.
Pada dimensi syariat, guru dituntut melaksanakan tugas sesuai aturan dan tanggung jawab yang telah ditetapkan. Namun, pemenuhan kewajiban formal perlu diiringi upaya meningkatkan kualitas diri, memperbaiki niat, serta memberikan pelayanan pendidikan yang baik kepada peserta didik.
Selanjutnya, dimensi tarekat mengajak guru untuk terus memperbaiki cara mendidik. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi berdasarkan buku pelajaran, tetapi juga perlu mengembangkan metode pembelajaran yang tepat, membangun suasana kelas yang positif, dan menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan peserta didik.
Sementara itu, dimensi hakikat menekankan pentingnya memahami makna di balik tugas pendidikan. Guru bukan hanya bertanggung jawab atas pengetahuan yang disampaikan, melainkan juga nilai yang ditanamkan melalui perkataan, sikap, dan perilaku. Adapun dimensi makrifat mengingatkan pendidik untuk senantiasa menyadari pengawasan Allah SWT dalam setiap amanah yang dijalankan, sehingga tumbuh integritas, keikhlasan, dan tanggung jawab.
Keempat perspektif tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan kompetensi profesional perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan spiritualitas. Dengan demikian, pendidikan agama tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran untuk mengamalkan ajaran Islam.
Kakanwil Kemenag Jatim itu juga mengingatkan bahwa nilai-nilai keimanan semestinya tercermin dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Ibadah yang dijalankan hendaknya menjadi penguat komitmen untuk bekerja secara jujur, disiplin, adil, dan bertanggung jawab.
Bagi guru PAI, nilai-nilai tersebut memiliki peran penting karena peserta didik belajar bukan hanya melalui penjelasan di dalam kelas, tetapi juga dengan mengamati perilaku gurunya. Keteladanan dalam menjaga ucapan, menghargai sesama, menepati tanggung jawab, dan memperlakukan peserta didik secara adil merupakan bagian dari pendidikan karakter yang berlangsung setiap hari.
“Jangan sampai pendidikan agama hanya berhenti pada penjelasan tentang akidah, ibadah, dan akhlak. Nilai-nilai itu harus hadir dalam tindakan nyata. Apa yang kita ajarkan hendaknya selaras dengan apa yang kita lakukan,” pesannya.
Ia mendorong para guru PAI untuk terus belajar, berinovasi, dan meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual yang menjadi landasan pengabdian. Guru juga diharapkan mampu memahami kebutuhan peserta didik, membimbing dengan penuh kepedulian, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya pribadi berilmu dan berakhlak mulia.
Menutup arahannya, Akhmad Sruji Bahtiar mengajak para guru untuk menjadi inspirasi sekaligus teladan bagi peserta didik. Guru diharapkan mampu menggerakkan semangat belajar, menuntun peserta didik menuju kebaikan, serta menunjukkan nilai-nilai Islam melalui perilaku sehari-hari.
“Jadilah sosok yang mampu menginspirasi dan menggerakkan peserta didik menuju kebaikan. Jadilah cermin yang memantulkan nilai-nilai Islam melalui sikap dan keteladanan. Guru bukan hanya mengajarkan kebaikan, tetapi juga berusaha menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.
Melalui penguatan keikhlasan, cinta, dan keteladanan, para guru PAI diharapkan semakin mampu menjalankan perannya dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga beriman, berakhlak mulia, serta mampu menerapkan nilai-nilai kebaikan di tengah keluarga, masyarakat, dan kehidupan berbangsa.(Tim)



